Stasiun Penelitian Ketambe, 30 Km dari Kutacane, Aceh Tenggara, ke arah Blangkejeren, Gayo Lues, merupakan salah satu stasiun penelitian tertua di Indonesia, khususnya untuk penelitian soal primata dan konservasi hutan.
Stasiun penelitian yang didirikan Herman D Rijksen tahun 1971 tersebut saat ini merupakan stasiun penelitian incaran orang asing yang masih aktif di kawasan Aceh karena relatif terbebas dari masalah keamanan.
Dari data yang dikeluarkan Unit Manajemen Leuser, dari enam stasiun penelitian di Aceh yang dikelola oleh lembaga nirlaba atas kerjasama pemerintah Indonesia dengan Uni Eropa itu, hanya satu yang aktif.
Lima stasiun penelitian lainnya adalah, Suaq Balimbing (Aceh Selatan) yang kegiatannya terbatas sejak September 1999, Bengkung (Aceh Tenggara) nonaktif sejak Januari 2000, Pos Pemantau Angusan (Gayo Lues) nonaktif sejak Agustus 1999, dan Soraya (Aceh Singkil) nonaktif sejak Januari 2001.
Penutupan stasiun-stasiun riset itu adalah karena alasan keamanan, bahkan beberapa di antaranya pernah menjadi sasaran pembakaran, serta penculikan dari orang-orang yang tidak diketahui identitasnya.
Walaupun secara umum daerah Ketambe, termasuk kawasan Aceh Tenggara lainnya, relatif terbebas dari masalah konflik bersenjata, kawasan itu tetap terkena imbas dari kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa Propinsi Aceh, Maluku, dan Papua sebagai daerah yang tertutup bagi para peneliti asing.
Padahal sampai saat ini Stasiun Penelitian Ketambe merupakan laboratorium alam yang dinilai sangat istimewa sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi peneliti dalam dan luar negeri.
Umumnya mereka yang ke Ketambe adalah para peneliti primata.
Data yang ada menyebutkan bahwa selain orangutan sumatera (Pongo abelii), jenis primata lain yang terdapat di sana adalah kukang (Nycticebus coucang), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), kedih (Presbytis thomasi), sarudung (Hylobates lar), dan siamang (Hylobates syndactylus).
Selain primata, juga terdapat mamalia besar lainnya seperti harimau sumatera (Phantera tigris sumatensi), macan dahan (Neofelis nebulosa), dan beruang madu (Helarctus malayanus).
Untuk melakukan penelitian di sana, para periset diberi fasilitas, antara lain peta kawasan, ruang perpustakaan, penginapan, dan dapur dengan kokinya yang memiliki masakan sedap walaupun dengan menu ala Ketambe.
Data tahun 1996 hingga 2002 memperlihatkan bahwa periset asing mendominasi kegiatan penelitian di tengah hutan itu. Puncak jumlah peneliti terjadi pada tahun 1999, yaitu mencapai 27 orang, terdiri atas 21 peneliti asing dan enam peneliti lokal.
Menurut pengelola stasiun riset, banyak periset asing menyatakan kecewa karena tidak mendapat izin (meriset) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai instansi pemerintah Indonesia yang berwenang mengeluarkan surat izin penelitian bagi orang asing.
Kepala Biro Kerjasama dan Pemasyaraktan Iptek LIPI, Ridwan Jacob, mengakui banyak proposal penelitian dari luar negeri dengan tujuan kawasan Aceh yang tidak dapat dipenuhi.
“Kami tidak mau mengambil resiko karena secara umum Aceh dikategorikan belum aman,” katanya.
Menurut dia, faktor keamanan memang menjadi faktor penentu, selain substansi proposal penelitian, bagi diberikannya izin kepada para peneliti asing.
“Kami tetap yang disalahkan jika terjadi sesuatu terhadap peneliti,” katanya mengenai pengeculian jika ada pihak lain yang menjamin keamanan bagi peneliti di suatu daerah di Aceh.
Ancaman
Walaupun terbebas dari masalah keamanan, stasiun riset seluas 450 hektare yang terletak dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ini mendapat ancaman yang tidak kalah serius, yaitu penebangan liar (illegal logging) yang para pelakunya disebut-sebut sebagai “orang-orang kuat”.
Saat ini Bupati Aceh Tenggara memang telah memberikan jaminan bahwa hutan riset itu akan aman dari aksi penjarahan, tetapi itu bukan berarti hutan itu aman dari kehancuran akibat kegiatan illegal logging.
“Kalau penebangan itu dibiarkan, maka Ketambe akan jadi pulau yang terpencil dan mati perlahan-lahan,” kata Herman D Rijksen, pendiri stasiun itu, setelah berkeliling menyaksikan sendiri akibat dari perbuatan pencuri kayu yang pernah terjadi di kawasan hutan riset itu.
Ancaman kerusakan terhadap Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), suatu daerah seluas dua juta hektare, yang daerahnya meliputi beberapa kabupaten di Aceh dan Sumatera Utara memang sangat tinggi.
Hinggi kini setidaknya telah 20 persen kawasan KEL, yang di dalamnya juga termasuk TNGL (890 ribu hektare), telah gundul, dan jika tidak mendapat perhatian serius dan kemauan politik tinggi untuk menyelamatkannya maka dalam 10 tahun KEL -kawasan unik tempat hidup gajah, harimau, orangutan, dan beruang madu, akan jadi tinggal kenangan.
Apalagi saat ini Pemda Nanggroe Aceh Darussalam merencanakan pembukaan jalan yang dinamakan Ladia Galaska, yaitu jalan-jalan yang akan menghubungkan kawasan pesisir di Lautan India (Ladia) dengan daerah Gayo, Alas, dan pesisir Selat Malaka (Galaska).
Rencana itu sekarang menjadi masalah rumit baru di Propinsi yang selama ini sudah dirundung berbagai masalah keamanan itu. Ladia Galaska menjadi topik perdebatan yang bisa disebut sebagai membelah dua masyarakat, yang pro dan yang kontra.
Ancaman penggundulan itu juga sangat terasa di kawasan sekeliling Ketambe. Suara mesin gergaji (chain saw) begitu mudah terdengar dari Ketambe. Bahkan jika berjalan kaki sekitar tiga jam ke dalam kawasan hutan riset maka suara itu akan makin terdengar jelas, termasuk jejak-jejak dan sisa-sisa kegiatan penebangan liar di situ.
Tak heran jika Herman menyatakan kekhawatirannya tentang kepunahan perlahan-lahan hutan riset Ketambe. Soalnya tidak mungkin hutan seluas 450 hektare dapat mempertahankan keasliannya sendirian di tengah kawasan yang gundul.
Apalagi jika diingat bahwa di kawasan itu juga tinggal spesies-spesies besar yang sangat bergantung pada keberadaan hutan yang begitu luas, sehingga dengan begitu hewan-hewan besar itu kini juga tinggal menunggu kepunahannya.
Pada awal Maret, kawasan Ketambe hanya dihuni oleh tidak lebih dari tujuh orang, yang dipimpin manajernya Syawaluddin.
“Saat-saat seperti ini, kami sangat merindukan kedatangan peneliti asing,” kata Syawaluddin, saat makan malam di ruang yang juga berfungsi sebagai perpustakaan yang biasanya menjadi arena diskusi dan bedah buku hingga malam oleh para mahasiswa yang melakukan riset.
Menurut dia, kedatangan orang asing di situ bukan hanya membuka kesempatan para mitra lokal mendapatkan pengalaman internasional, melainkan juga membuat para pencuri kayu itu rada malu.
Saat malam menunjukkan pukul 22.00 WIB, generator listrik pun dimatikan, dan lampu-lampu minyak tanah yang dinyalakan ternyata tak bisa memberikan sinar yang sanggup menembus gelap yang begitu pekat.
Suara-suara serangga malam, sesekali suara burung malam dan hewan lainnya sepertinya mewakili rintihan dan ratapan menjelang “kepunahan” Katambe dari tangan-tangan usil.
(17-03-2003)