Plang bertuliskan “Selamat Datang di Desa Wisata Ketambe” masih tegak di muka desa yang jaraknya sekitar 30 Km dari ibukota Kabupaten Aceh Tenggara, Kutacane, itu.

Tapi, tempat-tempat penginapan yang bertebaran di sisi kiri dan kanan di sepanjang jalan di desa itu tidak menunjukkan adanya kegiatan pariwisata.

Bahkan, desa wisata yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) tersebut cenderung sepi, sesepi rumah Pak Ali yang kini hanya ditinggali berdua saja dengan istrinya, yang dari penampilannya sama ringkih dan tuanya dengan sang suami.

Rumah Pak Ali yang dinamai Wisata Cinta Alam, yang letaknya paling dekat dengan pintu TNGL, menurut seorang aktivis LSM lokal, adalah saksi bagi kejayaan ekowisata, yaitu wisata alam yang menekankan prinsip kelestarian lingkungan hidup, di Aceh Tenggara.

Rumah yang tidak terurus itu memiliki dua kamar tidur di lotengnya, yang kalau bisa berbicara konon bisa menceritakan pengalamannya pernah disinggahi puluhan hingga ratusan turis asing yang dulu pernah menjadikan desa itu sebagai “desa bule” di tengah hutan belantara Aceh.

“Ah, tak ada lagi yang macam dulu,” kata istri Pak Ali.

Pada awal bulan Maret itu, baru satu orang asing yang menginap di rumah yang enak untuk dijadikan tempat bersantai sambil minum kopi itu, setelah sekian lama tak didatangi turis.

Hal sama diakui juga oleh penjaga di sebuah wisma milik Bustanil Arifin (begitu orang-orang menyebutnya) yang letaknya di dalam kawasan TNGL atau beberapa ratus meter dari Desa Ketambe.

Wisma Gurah, begitu nama tempat penginapan yang diresmikan Bustanil saat menjadi Kepala Bulog, sejak beberapa bulan lalu baru menerima sepasang tamu.

Padahal, wisma yang kelihatan dirancang jauh lebih apik dibandingkan wisma lainnya di kawasan itu dahulu selalu kelebihan peminat, sehingga tamu yang tak kebagian kamar mesti rela mencari tempat lain karena turis yang datang ke ssana dipastikan akan menghabiskan waktu yang lama.

Pak Ali dan istrinya memang tidak fasih menceritakan sebab-musabab perginya para turis sejak tiga tahunan lalu itu, kecuali memberikan perbandingan sederhana yang menceritakan bahwa dulu turis memberikan pendapatan yang menggembirakan.

Bahkan, menurut pihak Unit Manajemen Leuser, semua agen perjalanan wisata yang ada di Medan pada sekitar awal 1990-an hingga menjelang tahun 2000, menjadikan kawasan Ketambe sebagai tempat tujuan ekowisata untuk para turis asing.

Pariwisata berbasis alam disebutkan telah berkembang di kawasan TNGL itu, seperti perjalanan hutan (trekking), arung jeram (rafting), dan pengamatan satwa liar, sehingga penduduk di desa itu juga menerima imbas ekonominya dan bertumbuhanlah wisma yang dikelola secara mandiri.

Seorang aktivis LSM yang dulu pernah menjadi asisten juru masak tim “rafting” (arung jeram) sebuah perusahaan pariwisata di Medan membenarkan bahwa dulu kawasan itu tidak hanya memiliki arena arung jeram yang menjanjikan petualangan berlika-liku di derasnya arus Sungai Alas.

“Dulu para bule sibuk memotret atau sekadar tercengang saat melihat aneka satwa di pinggir-pinggir sungai,” katanya menceritakan pengalamannya membawa bule menyusuri sungai dari Aceh Tenggara hingga ke Gelombang di Aceh Selatan (kini masuk Kabupaten Aceh Singkil).

Sambil mengikuti liku-liku arus sungai, para turis bisa menikmati kera ekor panjang, kupu-kupu, beruang madu, aneka burung besar, hingga orangutan (mawas) dan siamang.

Menurut dia, keaslian jalur lintasan di alam Ketambe dan hutan-hutan sekitarnya, serta berbagai satwa liar yang ada di dalamnya adalah daya tarik yang dijual kepada turis asing.

Ketika itu, katanya, walaupun jalan masuk dari Medan ke Kutacane hingga ke lokasi desa wisata tidak semulus sekarang ini, tetapi para bule mengaku sangat puas setelah mengunjungi daerah itu.

“Dulu jalan memang jelek, bisa sampai tujuh jam lebih, tetapi kawasan tujuan menjanjikan hal yang mengagumkan,” katanya.

Sisa-sisa kejayaan ekowisata di desa yang terletak di jalan raya Kutacane-Blangkejeren itu juga dapat dilihat dari dua lembar kertas karton, yang telah koyak sebagian, yang tertempel di dinding sebuah “Club Rafting” yang bersebelahan dengan rumah Pak Ali.

Di karton putih itu tertulis dalam bahasa Inggris berbagai tawaran tujuan wisata yang dapat dinikmati wisatawan, yang keseluruhannya adalah petualangan menikmati keindahan hutan dan segala isinya.

Tujuan terdekat adalah ke air panas Gurah yang dapat dinikmati dalam satu hari kegiatan, dan yang terjauh adalah perjalanan ke Gunung Leuser yang ditempuh dalam 14 hari perjalanan untuk pergi dan pulang.

Melihat tawaran harga untuk menikmati itu semua, yang menurut pengelola “Club Rafting” Johan Saprudin besarnya mencapai Rp3 juta untuk dua orang dengan tujuan Gunung Leuser, memang pantas jika turis asinglah yang menjadi sasaran.

“Tapi, sekarang kita jadi susah jika ada turis asing yang tujuan utamanya adalah melihat binatang,” kata Johan.

Itulah masalahnya, kata Syawaluddin selaku periset dari Unit Manajemen Leuser bahwa banyak hewan, seperti siamang, mawas, burung-burung besar, beruang madu, dan kedih yang dulu mudah dijumpai di sekitar Ketambe kini menjauh akibat penebangan liar yang marak sejak beberapa tahun lalu.

Padahal, kata dia, banyaknya hewan dan hutan yang rimbun adalah modal bagi ekowisata yang dulu sangat menjadi andalan bagi penduduk desa.

Kehilangan berbagai modal untuk kegiatan ekowisata itu diyakini sebagai faktor utama larinya turis ketimbang masalah keamanan.

Buktinya, di saat krisis ekonomi mulai melanda dan di sebagian daerah di Aceh memiliki problem keamanan, di Ketambe konon turis tetap saja berdatangan hingga menjelang tahun 2000.

Namun, ketika penebangan liar makin merajalela, mulailah banyak agen perjalanan wisata meninggalkan lahan ekowisata di sana, karena semakin banyak turis yang mengeluh saat menyaksikan aksi pengrusakan itu.

Bahkan, setelah seorang Komandan Kodim setempat dikenai tindakan administratif sekitar tahun 2000 lantaran kasus “illegal logging” di kawasan itu, ternyata perusakan hutan masih terus terjadi, karena banyaknya orang “berkuasa” (begitu kalangan LSM menyebutnya) yang turut bermain kayu.

“Banyak orang kuat yang menjadi pemain kayu,” begitu sering disebut-sebut kalangan LSM.

Sejuk

Bagi orang yang baru menginjakkan kaki di desa wisata yang dapat ditempuh lewat jalan darat selama lima jam dari Medan lewat Kutacane itu bisa langsung merasakan udara sejuk dan suasana hening khas kawasan hutan lebat, sambil selalu diselingi suara serangga dan celoteh kera ekor panjang.

Apalagi saat mulai melangkahkan kaki melewati pintu gerbang TNGL, yang tampak tak terawat, sejumlah kera ekor panjang terlihat begitu riang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Petugas TNGL, yang sebenarnya harus menjaga kawasan itu, menurut banyak orang di daearah itu, sudah sejak lama tak menampakkan dirinya.

Padahal, seharusnya semua orang yang mau masuk TNGL harus melapor ke petugas di sana, karena wilayahnya termasuk kawasan konservasi terlarang bagi kegiatan apapun dan keberadaannya dilindungi undang-undang.

Setelah menyeberangi Sungai Alas dengan menumpang perahu yang diikat dengan katrol baja untuk ke kawasan hutan riset Ketambe, kelebatan hutan makin begitu terasa menakjubkan.

Di kawasan hutan riset seluas 450 hektare itu, keaslian hutan primer tetap terjaga yang antara lain ditandai kerapatan pohon yang menjulang tinggi menjaga dasar hutan agar tidak ditumbuhi semak.

Sejauh mata memandang ke atas bukit-bukit yang mengelilinginya, kerapatan hutan masih terlihat anggun kelebatannya.

Berjalan di bawah pohon-pohon besar sambil sesekali merelakan kaki digigiti pacet menjadi tidak terasa lelah, karena tidak lebih dari tiga jam perjalanan bisa mengintip orang utan menikmati buah di dahan pohoh tinggi sambil menggendong anaknya.

Tapi, berbarengan dengan itu, suara “chain saw” (mesin gergaji) mulai terdengar sayup-sayup bersaingan dengan suara gas kendaraan yang sesekali datang dari Kutacane ke Blangkejeren (ibukota Kabupaten Gayo Luwes) atau sebaliknya.

Suara mesin gergaji yang menderu-deru itu diyakini membuat banyak hewan besar lari menjauh, sehingga jumlahnya yang bisa dilihat di kawasan Ketambe menjadi berkurang jauh.

Akibatnya, dalam perjalanan itu juga cuma bisa menikmati burung kuau hinggap jauh di atas pucuk pohon. Padahal, saat suara-suara mesin itu tidak ada, burung-burung itu bisa dilihat hinggap di dahan yang lebih pendek dan dapat lebih leluasa dipandang mata.

Saat perjalanan lebih jauh ke tengah hutan, mulailah tampak sisa-sisa penebangan liar di kawasan hutan riset yang telah menghasilkan banyak sarjana berbagai strata tingkat nasional maupun internasional.

Jalur “trekking” penelitian yang dilalui tiba-tiba membesar pada sebuah sisi yang curam. Rupanya itu adalah “jalur kerbau”, yaitu jalur yang dipakai para penebang liar untuk membawa kayu curian dengan menggunakan tenaga kerbau.

Jalur itu menukik dari puncak sebuah bukit ke arah sungai. Saat jalur itu diikuti lebih ke atas, tampaklah sisa-sisa kayu hasil tebangan yang tidak terpakai.

Para pencuri itu hanya mengambil beberapa meter kayu dari sebuah pohon yang ditebang dan sisanya dibiarkan begitu saja tergolek sia-sia.

Kini, para pencuri kayu itu telah memindahkan operasinya ke tempat yang lebih jauh dari areal riset dan terus memberikan teror dengan suaranya yang membuat hati manusia dan hewan mamalia besar tersayat dan memilih menjauh.

Bahkan, saat perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan hingga ke perbatasan Aceh Tenggara dengan Gayo Luwes, yang dapat ditempuh tidak lebih dari satu jam, tampaklah bidang-bidang tanah gundul di atas bukit sisa penebangan liar.

Konon, kini di kawasan ekosistem Leuser telah terserang penggundulan hutan hingga 20 persennya.

Dari kejauhan, banyak lahan gundul berwarnah merah tanah yang ditinggalkan begitu saja, dengan sejumlah batang kayu sisa pemotongan yang tersia-sia.

Lahan-lahan gundul itu seolah hanya menunggu waktu yang tepat untuk longsor, karena hutan-hutan di TNGL –yang sebenarnya terlarang untuk segala aktivitas manusia– kebanyakan memiliki kemiringan lebih dari 60 derajat.

Kegiatan ilegal itu akhirnya mengganggu ekosistem yang dulu terkenal eksotis itu, sehingga Johan Saprudin kini menjadikan tujuan wisata ke puncak gunung Leuser sebagai andalannya, yaitu dengan menawarkan panorama dan burung-burung jika cuaca bagus.

“Kalau ke Leuser saya juga bisa memilih rute yang tidak ada penebangan liarnya,” kata dia.

Soalnya, belum lama ini dia mengalami pengalaman yang menyakitkan sebagai seorang pengelola ekowisata, yaitu ketika sepasang turis langsung menangis dan minta perjalanan dihentikan begitu menyaksikan penebangan liar.

“Saat itu sedang menuju ke ‘Gurah Hot Spring’,” kata pengelola penginapan yang mengaku bahwa pada masa jaya ekowisata dirinya bisa kedatangan tiga rombongan wisatawan dalam satu bulan.

Rute ke Gurah sebelumnya adalah tujuan terpopuler, karena dengan rute yang tidak terlalu jauh, yaitu hanya berjalan kaki dalam hitungan jam, turis bisa bertemu berbagai satwa sebelum mencapai air panas.

Sedangkan, di lain pihak, sulitnya turis itu konon sering memaksa beberapa pemandu wisata berbuat curang, yaitu dengan mengajak turis berputar-putar ke arah yang tak perlu supaya sang turis tidak memergoki penebang liar.

Kalau turis yang “dibohongi” itu tahu, tentunya akan semakin banyak turis yang menangis di Ketambe.

(14-03-2003)